Kantor Bahasa Kalimantan Timur menaja sebuah kegiatan bernama “Pelatihan Generasi Muda Bersastra Daerah”. Pertama kali kegiatan ini diadakan di Dusun Putak, Desa Loa Duri Ilir, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara, pada 17–18 Februari 2021. Bertempat di lamin adat, kegiatan yang diikuti oleh 30-an peserta tersebut berjalan dengan lancar. Meski menggunakan sistem tatap muka langsung, kehati-hatian dalam protokol kesehatan tetap diterapkan.
Penajaan “Pelatihan Generasi Muda Bersastra Daerah” dimaksudkan untuk memvitalkan kembali bahasa dan sastra daerah, dengan sasaran utama generasi muda. Perkembangan menampakkan bahwa banyak bahasa dan sastra daerah mengalami kemunduran penggunaan dan penguasaan. Generasi muda sebagai generasi masa kini mayoritas tidak lagi mampu menggunakan bahasa ibu atau bahasa daerah mereka. Penguasaan sastra lebih memprihatinkan lagi. Sangat sedikit generasi muda bersedia mempelajari dan menguasai sastra daerah.
Dusun Putak dihuni oleh mayoritas suku Dayak Tunjung. Keterancaman eksistensi bahasa Tunjung juga terjadi di dusun ini. Bahasa Tunjung sudah jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Generasi tua yang masih menguasai bahasa ibu mereka tidak memiliki kesadaran untuk menularkan penguasaan bahasa ibu mereka kepada para generasi muda. Mereka lebih memilih jalur praktis dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi sehari-hari. Jangankan bersastra daerah, berbahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari pun sudah mereka lupakan.
Kegiatan “Pelatihan Generasi Muda Bersastra Daerah” yang berlangsung selama dua hari telah membukakan kesadaran mereka untuk kembali mencintai bahasa ibu. Bukan hanya ditanamkan kesadaran untuk mengangkat ulang bahasa Tunjung, kepada para peserta juga dilatihkan ketrampilan mencipta sastra dengan menggunakan media bahasa ibu mereka itu. Mereka, yang awalnya tidak mengenal sama sekali adanya sastra daerah, menjadi bersemangat mempelajari teknik penciptaan sastra daerah.
Sastra daerah yang dilatihkan dalam kesempatan tersebut adalah rijoq. Rijoq merupakan salah satu jenis pengucapan sastra yang berkembang di masyarakat Tunjung. Rijoq berbentuk pantun dengan keunikan tersendiri. Pantun ini menuntut ketrampilan tersendiri untuk mencipta dan menyampaikannya. Pantun rijoq, dalam perkembangannya, biasa disampaikan dengan cara didendangkan.
Keunikan pantun rijoq, ia hanya terdiri atas tiga baris. Baris pertama merupakan sampiran. Baris kedua dan ketika adalah isi pantun. Bunyi pada kata pertama (terkadang kata kedua) baris pertama menjadi sampiran bunyi untuk akhir pantun baris kedua. Bunyi pada kata terakhir baris pertama menjadi sampiran bunyi untuk akhir pantun baris ketiga.
Noq baloq dilapm lebak
Itih akui ewah berijoq
Eteq gerup dusun Putak
Para pemuda Dusun Putak yang tadinya merasa asing dengan sastra tersebut, dengan tertatih-tatih mencoba mempelajarinya. Meski merasa kesulitan pada awalnya, mereka akhirnya bisa juga menulis teks pantun berbentuk rijoq tersebut. Mereka juga berlatih mendendangkan rijoq yang sudah diciptakan. Rona riang tampak pada wajah-wajah mereka; rona riang dari menyukai sastra daerah mereka. (ar)