Muara Badak, 9 September 2024 — Tim Pemantauan Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur tanggal 5—7 September 2024 melakukan kegiatan Pemantauan dan Evaluasi Revitalisasi Bahasa Kenyah di Muara Badak, Kutai Kartanegara. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan dari Program Revitalisasi Bahasa Daerah yang menjadi bagian dari Program Merdeka Belajar Episode 17 yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dengan tujuan untuk melestarikan bahasa daerah, termasuk bahasa Kenyah di Kalimantan Timur yang sudah mengalami kemunduran jumlah penutur agar tidak punah. Kegiatan ini bertujuan untuk memantau dan mengevaluasi pelaksanaan revitalisasi bahasa Kenyah di Muara Badak, Kutai Kartanegara yang sudah dilakukan oleh guru utama dan guru pelatih. Selain itu, kegiatan ini juga melihat progres kesiapan daerah untuk berpartisipasi dalam Festival Tunas Bahasa Ibu di tingkat provinsi pada bulan November mendatang.
Kegiatan pemantauan dilakukan di SD Negeri 014 Muara Badak dan SMP Negeri 8 Muara Badak. Kegiatan tersebut dihadiri Kepala SD Negeri 014 Muara Badak dan SMP Negeri 8 Muara Badak. Mereka merasa senang dan menyambut baik kedatangan Tim Pemantauan dari Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur untuk memantau langsung dan mengevaluasi kegiatan Revitalisasi Bahasa Daerah yang sudah dilakukan walaupun masih serba terbatas.
Dalam sambutannya, Kepala SD Negeri 014 Muara Badak mendukung kegiatan tersebut dan berharap peserta didiknya mampu berkompetisi dalam Festival Tunas Bahasa Ibu untuk memajukan bahasa daerah, khususnya bahasa Kenyah.
Tim Pemantauan berkesempatan melihat penampilan puisi, dongeng, lagu, dan pidato siswa SD dan SMP dalam bahasa Kenyah. Anak-anak sudah berani tampil dengan baik tetapi perlu ditingkatkan lagi, khususnya dalam hal ekspresi dan penghayatan. Hasil Pemantauan di Muara Badak, Kutai Kartanegara memperlihatkan bahwa pengimbasan kepada guru-guru dan siswa-siswa sudah dilakukan dengan baik walaupun hasilnya belum optimal. Salah satu kendalanya, yaitu bahasa Kenyah belum masuk dalam muatan lokal di sekolah dan untuk penganggaran masih terbatas. Namun, para guru utama dan guru pelatih akan terus berusaha melatih anak-anak usia SD dan SMP untuk terus belajar bahasa Kenyah melalui puisi, pidato, dongeng, cerpen, komedi tunggal, dan sebagainya. Mereka juga berkomitmen dan siap berpartisipasi mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat provinsi agar bahasa daerah tetap lestari. (nm)