31 Juli 2021 — Masyarakat di Indonesia rata-rata bahasa pertama yang dikuasai adalah bahasa daerahnya sehingga seringkali bahasa ibu di Indonesia diidentikkan dengan bahasa daerah. Kondisi kebahasaan yang diglosik menyebabkan bahasa daerah berperan juga sebagai bahasa ibu. Hal ini menunjukkan bahwa kekayaan bahasa daerah di Indonesia berperan penting dalam melanjutkan kebudayaan masyarakat sebuah penutur bahasa daerah tertentu.

Keberadaan bahasa daerah di Indonesia saat ini terlihat semakin menurun pada jumlah penutur bahasa daerah tersebut. Selain itu, semakin banyak generasi yang tidak dapat berbahasa daerah yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti perkawinan antaretnis, pendidikan, serta kemajuan teknologi. Kondisi ini diperparah dengan rendahnya kesadaran penutur bahasa daerah akan pentingnya pelestarian bahasa daerah guna menjaga kebudayaannya secara luas. Pelestarian Bahasa daerah dapat diterapkan melalui penulisan bahan bacaan berbahasa daerah.

Penulisan bahan bacaan berbahasa daerah ditujukan sebagai upaya pendokumentasian bahasa dan sastra daerah. Selain itu, penulisan bacaan berbahasa daerah dapat mendorong bertumbuhnya pemakaian bahasa daerah di kalangan penuturnya. Penulisan ulang cerita rakyat dalam bahasa daerah perlu digiatkan kembali. Budaya tulis dan baca di kalangan masyarakat memerlukan pemantik yang dapat menyemangati generasi muda menjadi peduli terhadap bahasa daerahnya. Pengenalan bahasa daerah kepada anak-anak perlu dilakukan sedini mungkin. Pengenalan bahasa daerah memerlukan media yang dapat menarik minat anak-anak untuk mengenal bahasa daerah.

Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur melakukan upaya menyediakan bahan bacaan cerita daerah berbahasa daerah dan berbahasa Indonesia. Penghimpunan certa rakyat berbahasa daerah dilakukan melalui kegiatan Pemilihan Cerita Rakyat Dwibahasa, berbahasa daerah-bahasa Indonesia. Cerita rakyat tersebut kemudian akan diterbitkan oleh Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur untuk disebarluaskan dan dibaca masyarakat di Provinsi Kalimantan Timur dan Provinsi Kalimantan Utara.

Secara teknis, peserta mengirimkan naskah yang bersumber pada cerita rakyat yang ada dan hidup di masyarakat. Cerita tersebut ditulis dalam bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Penggunaan kalimat pun ditulis dengan memperhatikan pilihan kata yang sesuai dengan karakter pembaca pada usia anak-anak.

Melalui kegiatan tersebut, Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur dapat mengumpulkan 31 cerita rakyat dwibahasa. Cerita-cerita tersebut menggunakan bahasa daerah, seperti Banjar Samarinda, Kutai, Paser, Tidung, Berau, Kenyah, dan Benuaq. Cerita dwibahasa tersebut akan kembali melalui proses edit dan revisi agar layak untuk diterbitkan. Pencetakan dan penerbitan cerita rakyat dwibahasa dilakukan sebagai dukungan Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur terhadap program literasi nasional yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (me)