Membaca adalah jendela ilmu pengetahuan karena dengan membaca seseorang dapat memperoleh wawasan, meningkatkan keterampilan kognitif, dan pengalaman. Selain itu, membaca dapat meningkatkan pemikiran kritis terhadap sesuatu. Oleh karena itu, kemampuan literasi di Indonesia tentu harus ditingkatkan. Namun faktanya, literasi di Indonesia masih sangat rendah. UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019, Indonesia menempati peringkat ke-62 dari 70 negara atau merupakan 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah (Dany, 2020:12).
Fenomena rendahnya minat literasi di Indonesia nyatanya saat ini masih kurang mendapatkan perhatian dari masyarakat, khususnya generasi muda. Padahal generasi muda seharusnya menjadi ujung tombak dalam peningkatan, pengembangan, dan pertahanan literasi. Didukung dengan perkembangan tekonologi dan informasi justru menjadi salah satu peralihan masyarakat terhadap pentingnya peningkatan literasi. Meskipun demikian, masih ada beberapa daerah di Indonesia yang tingkat literasinnya di atas rata-rata di antaranya Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Kalimantan Timur sendiri memiliki indeks literasi digital 2022 mencapai 3,62. Sedangkan indeks literasi digital di Kalimantan Utara mencapai 3,57. Survei ini menunjukkan bahwa Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara berada di atas skor rata-rata nasional sebesar 3,54.
Kalimantan Timur menjadi sasaran perpindahan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang mana saat ini telah banyak pembangunan infrastruktur sosial maupun fisik di berbagai wilayah yang berada di sekitar IKN. Hal ini tentu membawa berbagai dampak positif ataupun negatif terhadap pertahanan litrasi dan pelestarian budaya yang ada di Kalimantan Timur. Dampak tersebut, ditentukan oleh sikap masyarakat terhadap pengaruh pembangunan dan kebudayaan asing yang semakin akrab dengan masayarakat masa kini. Tentu menjadi sebuah pertanyaan dan perenungan sendiri bagi generasi muda yang ada di Kalimantan, apakah dengan adanya perubahan pembangunan kota, lingkungan masyarakat, dan gaya hidup akan membuat larut dan lupa akan pertahanan literasi dan kebudayaan yang ada atau justru menjadi motivasi untuk meningkatkan daya saing terhadap peningkatan literasi dan pertahanan budaya.
Oleh karena itu, generasi muda harus mampu membuat aksi dengan inovasi dan kreativitas yang dimikili sebagai wujud kepedulian terhadap pertahanan literasi dan kebudayaan. Adapun aksi nyata yang dilakukan oleh Duta Bahasa Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara dalam upaya pertahanan literasi adalah pembuatan komik cerita rakyat suku Dayak Kenyah. Pembuatan komik cerita rakyat Dayak Kenyah juga termotivasi dari cerita rakyat suku Dayak Kenyah yang saat ini telah tenggelam dan banyak dilupakan oleh masayarakat. Sehingga disusun sebuah cerita rakyat yang memuat kebudayaan masyarakat suku Dayak Kenyah pada zaman lampau. Dengan tujuan mengingatkan kembali kepada generasi muda akan kebudayaan dan bahasa daerah yang sudah jarang digunakan. Tujuan lainnya yaitu, meningkatkan perbendaharaan kata dalam bahasa Dayak, meningkatkan daya imajinasi dan kreativitas, menumbuhkan minat baca yang lebih tinggi, dan meningkatkan kemampuan menulis. Adapun pembuatan komik cerita rakyat merupakan salah satu strategi dari program transpormasi dalam upaya peningkatan literasi dan pelestarian bahasa dan sastra daerah, khususnya suku Dayak Kenyah.
Selain dalam bentuk fisik, Komik bahasa yang memuat cerita rakyat suku Dayak Kenyah juga dikemas dalam bentuk digital yang dapat diakses menggunakan kode ORCBN yang tertera di belakang komik. Dengan adanya penyediaan komik secara fisik dan digital diharapkan generasi muda dapat saling mendukung satu sama lain dalam meningkatkan literasi, bahasa, dan sastra daerah. Sebagaimana generasi muda masa kini sangat trampil dalam penggunaan teknologi sehingga perkembangan tekonologi dapat dimanfaatkan secara positif dalam pertahankan literasi di Indonesia khususnya Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Sesuai dengan gendernya, komik cerita rakyat Dayak Kenyah ini dijadikan sebagai sarana dan prasarana sesuai dengan karakteristik yang kuat dan dikemas dalam elem gaya visual yang ditujukan untuk generasi milenial maupun gen-z. Selain dari pada itu, komik cerita cerita rakyat ini memuat beberapa kosakata suku Dayak Kenyah sebagai upaya pengenalan kembali kosakata yang sudah jarang digunakan. Contohnya nama-nama hewan dan benda dalam bahasa Dayak Kenyah, seperti parang dalam bahasa Dayak disebut dengan baheng, burung enggang yang merupakan simbol kepemimpinan suku Dayak disebut dengan tebun.
Pengemasan komik secara visual dengan tujuan menarik pembaca khususnya generasi milenial dan gen-x. Hal ini bukan tanpa alasan, berdasarkan fenomena nyata yang terjadi pada generasi milenial dan ge-z lebih tertarik membaca buku yang dikemas secara visual dari pada tulisan paragraf yang panjang. Sejalan dengan pendapat Hutchinson (1949). Kata Sones (1944) menyimpulkan bahwa kualitas gambar komik dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Komik juga mempunyai potensi jika diciptakan sebagai media pembelajaran seperti yang dikemukakan Karl Koenke (1981), bahwa komik bisa mengarahkan siswa untuk disiplin membaca khususnya mereka yang tidak suka membaca atau yang memiliki kekhawatiran akan kesalahan.
Berkaitan hal tersebut, tentu harus dibuktikan dengan kegiatan yang terealisasi salah satunya penyebaran dan pengadaan sosialisasi yang mana sasarannya adalah anak Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Kegiatan ini pun telah dilaksanakan oleh Duta Bahasa Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara pada kegiatan perkenalan komik bahasa. Hasilnya menunujukkan bahwa anak SD dan SMP sangat tertarik dengan komik bahasa karena alur cerita yang dinamis dan elemen gaya visual komik yang unik. Selain itu, ditemukan bahwa generasi muda khususnya yang berada di pinggiran kota seperti Desa Budaya Pampang yang dominan suku Dayak Kenyah masih kental dengan bahasa daerah dan pertahanan budaya yang masih kuat. Sedangkan untuk kemampuan literasi diukur dengan membagikan komik sebagai bahan bacaan dan diberikan tugas untuk menentukan unsur intrinsik dan ekstrinsik dari komik selama 15 menit. Hasil yang diperoleh adalah anak-anak terkhusus generasi milenial dan gen-z yang berada di Desa Pampang memiliki kemampuan literasi yang baik dalam memahami isi cerita.
Upaya pertahanan literasi tidak hanya sakadar angan-angan, namun benar-benar harus direalisasikan secara nyata melalui inovasi yang dipadukan dengan kreativitas generasi muda. Hal inilah yang coba dilakukan Duta Bahasa Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara dalam aksi pertahanan literasi melalui sebuah komik cerita rakyat. Tidak hanya pertahanan literasi, aksi ini juga berkaitan erat dengan upaya pelestarian bahasa dan sastra daerah suku Dayak Kenyah. Oleh karena itu, perpindahan Ibu Kota Nusantara di Kalimantan harus mampu menjadi sebuah dorongan yang lebih kuat bagi generasi muda terhadap peningkatan literasi di Kalimantan Timur maupun di Kalimantan Utara. Semakin tinggi tingkat literasi yang dimiliki, semakin tinggi pula tingkat pengetahuan masyarakat sehingga sangat mungkin memiliki daya saing yang memadai dalam menghadapi pendatang yang akan semakin banyak berdatangan ke Ibu Kota Nusantara baru, yaitu Kalimantan Timur.
Daftar Pustaka :
Anisa, Azmi Rizky, Ala Aprila Ipungkarti, and Kayla Nur Saffanah. “Pengaruh kurangnya literasi serta kemampuan dalam berpikir kritis yang masih rendah dalam pendidikan di Indonesia.” Current Research in Education: Conference Series Journal. Vol. 1. No. 1. 2021.
Dany. 2020. Tingkat Literasi Indonesia Memprihatinkan. Kemenkopmk.go.id
Pinasti, Rohry Dinda. TA: Penciptaan Buku Komik sebagai Upaya Pengenalan Permainan Tradisional kepada Remaja. Diss. Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya, 2015.
Riduan Situmorang, (2022) ‘Menumbuhkan Gerak Literasi di Sekolah’, https://badanbahasa.kemdikbud.go.id/artikel-detail/734/menumbuhkan-gerakan-literasi-di-sekolah
Zulkarnain. (2022), ‘Kalimantan Barat masuk 10 Besar Tingkat Litrasi Tertinggi di Indonesia’, https://dpk.kalbarprov.go.id/kalimantan-barat-masuk-10-besar-tingkat-literasi-digital-tertinggi-di-indonesia/