Borneo International Conferensi on Educatial, Social, and Science 2021 merupakan rangkaian konferensi yang dilaksanakan di tiga negara, Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darusalam. Gelaran tersebut dilaksanakan dari tanggal 7 s.d. 9 September 2021. Konferensi tanggal 7 September dilaksanakan di Universiti Sains Malaysia (USM), Penang, Malaysia melalui aplikasi Webex. Selanjutnya,Konferensi dilaksanakan di Indonesia, tanggal 8 September 2021 di Universitas Mulawarman, Samarinda melalui aplikasi Zoom. Berikutnya, konferensi tanggal 9 September 2021 dilaksanakan di Universitas Islam Sultan Sharif Ali Brunei Darusalam melalui aplikasi Microsof Teams.

Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur sebagai unit kerja di bawah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, ikut berkontribusi dalam rangkaian konferensi tersebut. Ada dua kelompok pemateri yang ikut berkontribusi. Pertama, tim yang beranggotakan Anang Santosa, Ali Kusno, dan Nur Bety. Tim tersebut mempresentasikan makalah berjudul Identifikasi Potensi Konflik di Kalimantan Timur Terkait Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) Sebagai Dasar Infrastruktur Sosial Calon Ibu Kota Negara (IKN) secara daring di Universitas Islam Sultan Sharif Ali Brunei Darusalam. Beberapa poin utama disampaikan dalam presentasi tersebut. Kalimantan Timur sudah ditetapkan pemerintah pusat sebagai lokasi pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) yang berada di sebagian wilayah kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara. Provinsi Kalimantan Timur dihuni oleh beragam suku, agama, ras, dan golongan. Gesekan antarwarga dan kelompok masih terjadi. Konflik tersebut berpotensi berkembang menjadi konflik yang melibatkan kesukuan, agama, ras, dan antargolongan.

Wacana yang terbentuk dalam data kasus hukum yang terkait ujaran kebencian maupun berbagai ujaran kebencian yang tersebar di media sosial merepresentasikan isu yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Begitu pula sebaliknya, wacana ujaran kebencian yang berkembang dikhawatirkan dapat mempengaruhi kehidupan warga. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa adanya potensi konflik bernuansa SARA yang didominasi faktor kesukuan yang didukung oleh tingginya primordialisme warga. Adanya dugaan provokasi antara suku asli dengan pendatang yang lebih banyak dipicu kecemburuan sosial. Terbentuknya stigma negatif terhadap pendatang. Potensi kekerasan menguat karena keberadaan organisasi masyarakat (Ormas) yang bernuansa kesukuan. Selain itu, sejarah konflik antarsuku menyimpan potensi konflik baru yang setiap saat bisa muncul kembali dan tinggal menunggu faktor pemicunya. Berbagai potensi konflik tersebut perlu diantisipasi agar tidak menjadi konflik nyata sebagai bentuk pembangunan infrastruktur sosial persiapan Ibu Kota Negara (IKN). Selain itu, penyadaran bahwa perbedaan SARA merupakan sebuah kekayaan bangsa Indonesia perlu terus dilakukan kepada masyarakat.

Selanjutnya, pemaparan kedua, oleh Misriani dengan judul Pandemi, Media Online, dan Pembelajaran (Kajian AWK Van Dijk pada Opini di Media Online) . Makalah dipaparkan dalam gelaraan di Universitas Mulawarman Samarinda, secara daring melalui aplikasi Zoom. Dalam presentasi makalah tersebut, Misriani memnjelaskan bahwa pembelajaran jarak jauh (PJJ) merupakan metode pembelajaran yang ditetapkkan dalam masa pandemi Covid-19 di Indonesia. Guru, siswa, dan orang tua harus menguasai teknologi dan memiliki fasilitas pendukung dalam pelaksanaan pembelajaran ini. Pendampingan orang tua dalam pembelajaran juga berperan agar anak didik dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Peralihan metode ini juga mengharuskan guru untuk menguasai metode pengajaran berbasis teknologi. Pelaksanaan PJJ mengalami kendala dalam implemetasi di beberapa daerah. Kendala tersebut ramai dibicarakan di berbagai media, baik itu cetak maupun daring (online). Rubrik opini merupakan sebuah bentuk perwakilan pendapat masyarakat dalam menyikapi pembelajaran ini. Rubrik opini di media daring (online) Samarinda dibongkar melalui pendekatan analisis wacana kritis Teun A. van Dijk.

Pengambilan data dari pencarian sejak bulan Maret hingga Desember 2020, terpilih tiga opini dari dua media online. Ketiga opini tersebut memiliki kesamaan (latar sosial) yaitu peduli kepada mereka yang terdampak pandemi Covid-19 dalam pembelajaran. Keberhasilan pembelajaran daring diungkapkan berbeda di setiap opini. Skema opini tersebut terbentuk berdasarkan pengalaman dan peristiwa sebagai siswa, guru, dan kepala sekolah. Kognisi sosial dari opini pertama berupa skema perseorangan sebagai mahasiswa yang memiliki persamaan pengalaman sebagai siswa. Opini kedua melihat peristiwa dan pengalaman guru menangani siswa (skema peristiwa), dan opini ketiga perannya sebagai kepala sekolah. Berdasarkan ketiga opini tersebut dapat diketahui dari jenis pengetahuan kelompok dan nasional. Analisis konteks sosial menunjukkan bahwa pemerintah memiliki kekuasaan dan akses dalam memengaruhi wacana di masyarakat. Ketiga opini tersebut sepakat dengan kebijakan pemerintah (pembelajaran jarak jauh).

Kontribusi Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur dalam Borneo International Conferensi on Educatial, Social, and Science 2021 tersebut diharapkan dalam meningkatkan sinergisitas lembaga dengan perguruan tinggi di daerah. Selain itu, hasil penelitian yang dipresentasikan diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi kebijakan pemerintah daerah.