Kutai Barat, 23 Agustus 2025 — Tim Pemantauan dan Evaluasi RBD Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur pada 19—21 Agustus 2025 melakukan kegiatan Pemantauan dan Evaluasi Revitalisasi Bahasa Daerah (bahasa Melayu Kutai) di Kabupaten Kutai Barat. Kegiatan ini bertujuan untuk memantau dan mengevaluasi pelaksanaan Revitalisasi Bahasa Melayu Kutai di Kabupaten Kutai Barat oleh guru utama dan guru pelatih. Selain itu, kegiatan ini juga melihat kesiapan daerah untuk berpartisipasi dalam Festival Tunas Bahasa Ibu. Kegiatan pemantauan tersebut dilakukan di SD Negeri 004 Melak, SMP Negeri 1 Melak, dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Barat di Barong Tongkok.
Pemantaun di SD Negeri 004 Melak dihadiri oleh Wakil Kepala SD Negeri 004 Melak, guru utama, dan guru pelatih (muatan lokal), serta 20 orang siswa SD Negeri 004 Melak. Pada pemantauan di SD Negeri 004 Melak, Wakil Kepala SD Negeri 004 Melak, Ibu Savina Susantriana, menyambut baik kegiatan tersebut. Ibu Savina menyampaikan bahwa pembelajaran bahasa Melayu Kutai di SD Negeri 004 Melak dilaksanakaan mulai tahun 2025 melalui muatan lokal bahasa Melayu Kutai. Pembelajaran ini dilaksanakan di kelas I—VI. Kegiatan pengimbasan Revitalisasi Bahasa Daerah kepada guru-guru SD Negeri 004 Melak akan terus ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya. Wakil Kepala SD Negeri 004 Melak juga menyampaikan bahwa pada tanggal 20 setiap bulan dilaksanakan hari berbudaya, yaitu tampilan budaya berbagai suku di Kutai Barat. Sementara itu, guru utama (Isnawati, S.Pd.) dan guru pelatih muatan lokal (Veronika Hagang) menyampaikan bahwa pengimbasan Revitalisasi Bahasa Melayu Kutai telah dilakukan terutama kepada para siswa. Di SD Negeri 004 Melak telah diterapkan mulok meskipun buku panduan belum tersedia. Panduan pengajaran diperoleh guru melalui referensi di laman serta buku terbitan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur, seperti Kamus Pelajar Bahasa Melayu Kutai. Tim juga berkesempatan menyaksikan penampilan siswa SD Negeri 004 Melak, yaitu lagu tingkilan.
Pada hari kedua, tim berkunjung ke SMP Negeri 1 Melak. Tim diterima oleh Kepala SMP Negeri 1 Melak (H. Adi Wijaya, S.Pd.), Wakil Kepala SMP Negeri 1 Melak (Ibu Linda Anggraini), dan guru utama, serta dihadiri 14 siswa SMP Negeri 1 Melak. Adi Wijaya menyampaikan bahwa SMP Negeri 1 Melak telak melakukan pengajaran bahasa Melayu Kutai. Kepala SMP Negeri 1 Melak menyampaikan bahwa pelestarian bahasa daerah sangat penting dilakukan agar bahasa daeerah tidak punah. Langkah tersebut dilakukan agar generasi muda dapat mengenal dan berkomunikasi dalam bahasa daerahnya. Generasi muda harus bangga dengan identitas mereka. Guru utama SMP Negeri 1 Melak telah terlibat aktif dalam pembelajaran bahasa Melayu Kutai. Kepala sekolah berharap para siswa SMP Negeri 1 Melak terus termotivasi mempelajari bahasa Melayu Kutai. Sementara itu, guru utama SMP Negeri 1 Melak, Wilda Pebrina, S,Pd. dan Lola Mertalie Ime, S.Pd., menyampaikan bahwa pengimbasan Revitalisasi Bahasa Melayu Kutai telah dilakukan kepada rekan sejawat dan para siswa. SMP Negeri 1 Melak telah menerapkan pelajaran mulok untuk kelas VII. Kendala yang dialami dalam pelaksanaan mutan lokal adalah belum adanya pelatih kesenian Kutai dari kalangan seniman/budayawan Kutai. Berbagai tampilan bahasa Melayu Kutai juga dilaksanakan para siswa pada kegiatan sekolah setiap hari Sabtu. Para siswa antusias dalam menerima pengajaran bahasa Melayu Kutai. Tim juga menyaksikan penampilan para siswa SMP Negeri 1 Melak, yaitu lagu tingkilan dan tarsul.
Setelah mengunjungi satuan pendidikan, tim juga melakukan pemantauan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Barat. Tim diterima oleh Kasi Peserta Didik dan Pendidikan Karakter (Mimi Astuti, S.Pd.), Kasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan SD (Ibu Lemiyana Kartini) dan Widyaprada/Sub. Koordinator Kurikulum dan Penilaian (Wiwin Patariruta, M.Pd.). Pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Barat menyampaikan bahwa Kabupaten Kutai Barat telah melaksanakan muatan lokal di tingkat SD dan SMP yang merupakan realisasi Peraturan Bupati Kutai Barat Nomor 10 tahun 2023 tentang Pelaksanaan Kurikulum Muatan Lokal. Pembelajaran mulok disesuaikan dengan kecenderungan penutur bahasa di setiap wilayah dan sumber daya pengajarnya karena di Kutai Barat terdapat berbagai penutur bahasa (seperti Benuaq, Tunjung, dan Melayu Kutai). Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Barat memotivasi agar setiap sekolah dapat memfasilitasi terpenuhinya buku pegangan mulok bagi sekolah. Kabupaten Kutai Barat juga melaksanakan gelar budaya berbagai suku di Kabupaten Kutai Barat pada beberapa tahun terakhir. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Barat berharap para siswa di Kabupaten Kutai Barat dapat terus berkiprah dalam kegiatan Revitalisasi Bahasa Daerah, seperti Festival Tunas Bahasa Ibu di tingkat provinsi. Kegiatan Pemantauan Revitalisasi Bahasa Melayu Kutai di Kabupaten Kutai Barat menunjukkan bahwa pengimbasan Revitalisasi Bahasa Daerah kepada guru dan siswa telah dilakukan dan dapat terus ditingkatkan. Terdapat kendala dalam pelajaran muatan lokal, yaitu buku pelajaran muatan lokal bahasa Melayu Kutai bagi SD yang dipantau belum tersedia. Selain itu, buku pelajaran muatan lokal bahasa Melayu Kutai yang tersedia untuk tingkat SMP hanya di kelas VII. Kendala lainnya adalah belum adanya pelatih dari kalangan seniman/budayawan Kutai. Namun, para guru utama dan guru pelatih berusaha melatih anak-anak usia SD dan SMP untuk terus belajar bahasa Melayu Kutai. Tim juga melakukan evaluasi terhadap penampilan para siswa. Beberapa siswa perlu ditingkatan dalam hal ekspresi dan penghayatan dalam membawakan wahana bahasa Melayu Kutai. Para siswa sudah menunjukkan semangat dalam membawakan lagu tingkilan dan tarsul. (dk)